Indosex.biz
IndoSex.Biz Download Bokep Indo Sex & XXX Porn Video Secara Gratis

Peringatan : Anda harus berusia 18+ atau lebih untuk mengakses situs ini.
New Sex Site Bokep999.Com
Air Isi Ulang
Beberapa bulan terakhir ini aku sering merindukan mama ica, beliau
adalah salah satu langganan air isi ulangku yang tinggal di perumahan
sebelah perumahanku. Ya, aku memang pengusaha depot air minum isi ulang,
umurku 34 tahun, dan mama ica adalah seorang ibu satu anak yang umurnya
mungkin sebaya denganku. Untuk menanyakan umur pastinya, enggan sekali
aku melakukannya, karena yang aku tahu masalah umur adalah masalah yang
sensitif untuk seorang perempuan, apalagi bagi perempuan yang sudah
menikah dan memiliki momongan.
Rasa rindu ini berawal ketika suatu pagi aku mengantar air pesanannya,
saat itu aku melihat perempuan ini memandu langkahku menuju dapurnya
hanya dengan menggunakan celana dalaman (celana tipis transparan
selutut-pembaca mungkin tahu bentuk dan nama celana ini), alhasil celana
dalamnya dan bentuk pantatnya nampak jelas dihadapanku.
“ah…pagi-pagi sudah mengusik libidoku yang sejatinya memang dalam keadaan tinggi bila di waktu pagi…” kataku dalam hati.
“Naikin pak!!!” perintahnya membuyarkan lamunanku. “Apanya bu yang mau
dinaikin???” jawabku spontan ngaco karena terkontaminasi pikiran kotor
pada saat itu. “ya galonnya atuh…naikin ke dispenser, emang apaan yang
mau dinaikin???” katanya sambil menyunggingkan senyum tipis dari
bibirnya yang chubby.
Begitulah awalnya aku memiliki dendam rindu kepada wanita itu.
Sejujurnya kuakui kerinduan ini bukan kerinduan cinta kasih, tapi
melainkan kerinduan nafsu. Semenjak peristiwa pagi itu, sering aku
membayangkan berhubungan badan dengannya, dan setiap kali aku mengantar
air kerumahnya, tak lepas mataku mencuri-curi pandang pada bagian-bagian
tertentu tubuhnya. Payudaranya yang tidak terlalu besar, bulat
menantang dari balik baju yang dikenakannya, pinggulnya yang lebar
semakin menambah keindahan betuk pantatnya yang terlihat tebal dan
berisi, kulit punggung telapak tangannya saja putih bersih, apa lagi
selangkangannya, menurutku lebih-lebih lagi.
Saking terobsesinya aku dengan tubuhnya, sampai-sampai aku amalkan
mantera yang aku dapat dari browsing di internet. “niat ingsun kirim
mimpen tujuh layaran ning hatine mama ica binti fulan…blablabla….”
Kubaca sebelum tidur sebanyak 3 kali sambil membayangkan wajahnya lalu
kepruk bantal 3 kali juga, dan paginya sering aku dapati dia habis mandi
basah setelah malamnya aku bacakan mantera itu. Aku tak tahu pasti
apakah mandi basahnya itu karena habis bermimpi bersetubuh denganku atau
karena hal lain. Tapi yang pasti, sejak aku amalkan bacaan itu, ada-ada
saja alasannya untuk berlama-lama denganku daripada hanya sekedar
ngantar air “Buru-buru amat, ngopi dulu atuh.” Salah satu contoh alasan
dengan logat daerahnya yang kental, atau “Pak tolong benerin ini dulu
dong!” “Tolong pasangin gas sekalian ya pak!” serta kalimat-kalimat
pertanyaan singkat yang sifatnya pribadi, dan yang paling berkesan
adalah tatapan matanya itu, mengisyaratkan rasa yang dalam.
Alhasil kini aku dan mama ica semakin dekat, tidak lagi sebatas hubungan
penjual dan pembeli, sering di sela-sela hubungan bisnis, kami isi
dengan saling curhat, atau sekedar obrolan-obrolan singkat penuh berisi.
Berisi, karena dari obrolan itulah akhirnya aku tahu kalau sebenarnya
ia tidak mencintai suaminya, dari obrolan-obrolan itulah akhirnya aku
semakin mengenal wanita itu, dan begitupun dia sebaliknya.
Kemarin pagi seperti biasanya aku ngantar air ke rumahnya, tapi kali ini
aku tidak menunggu dia keluar dulu untuk mengiringi aku membopong galon
dari pintu depan ke dapur seperti hari-hari biasanya, kemarin pagi, aku
langsung masuk saja karena aku lihat pintu depan terbuka lebar tidak
seperti pagi-pagi biasanya, lagipula, aku sudah familier dengan rumah
dan penghuninya ini. Langkahku terhenti karena kaget dan hampir-hampir
saja galon air ditanganku terlempar karena mendengar pekik perempuan di
pojok ruang tengah rumah ini. Wajah perempuan yang memekik itu tidak
asing buatku, tapi seonggok daging kembar yang menggelantung di dadanya
itu yang membuat aku terkesima tak berkedip dibuatnya. Sungguh aku
terpukau melihat payudara yang asing di tubuh wanita yang tidak asing
buatku. Payudaranya memang benar tidak besar, tapi bulat padat berisi,
ukurannya sepertinya 32. Diujung payudaranya menempel puting besar
kemerah-merahan.
“Maa…maaf mama ica…” kataku gugup sambil mataku tidak lepas darinya.
Dengan santainya dia menjawab, “ya udah, engga apa-apa, sayanya juga
tanggung abisnya, udah terlanjur kelihatan.” Katanya sambil
menggerak-gerakan kedua kakinya dengan maksud membetulkan posisi celana
dalam yang baru saja ia kenakan. Selangkangan itu benar-benar putih,
pahanya tebal berisi, ohhh….seonggok daging yang di balik celana
dalamnya itu, begitu tebal hingga tercetak jelas di celana dalam
hitamnya itu. Pelan-pelan aku rasakan kemaluanku menggeliat bangun dari
tidurnya.
“hei…udah sana atuh terusin ke dapurnya, malah bengong begitu.” Katanya
sambil berusaha mengaitkan BH warna hitamnya. “Ta….” Belum selesai aku
bicara, dia sudah menyela, “udah engga apa-apa, kaya sama orang baru
kenal aja, ga usah di bantu, saya bisa dan biasa makai pakaian sendiri
tiap habis mandi. Udah taruh galonnya didispenser sana, kalo kelamaan
malah sayanya nanti jadi malu.”
Tanpa menunggu instruksi dua kali, segera aku berlari kecil menuju dapur
dengan maksud bisa secepatnya kembali lagi ke ruang tengah ini untuk
menyaksikan pemandangan indah dari tubuh padat mungil mama ica langganan
sekaligus temanku kini.
Tapi sayang, wanita itu kini sudah berpindah posisi duduk di kursi tamu
sambil mengusap-usap rambutnya dengan handuk. Mataku, terus saja mencari
seonggok daging yang kini tertutup dengan u can see merah dan celana
pendek hitam.
“Habis mandi basah mama ica?” godaku sambil memrebahkan pantat di
seberang kursi yang dia duduki. “Tau nih, semalem abis mimpi enak sama
orang, tapi sayangnya bukan sama suamiku.”
“Katanya engga cinta, tapi ngarepin mimpi sama suaminya sih?” jawabku
spontan. Dia hanya mencibir genit sambil mencubit pinggangku dan berlalu
meninggalkanku ke dalam kamar.
Dalam moment seperti ini, adalah saat yang tepat untuk terus menggoda
dan merayunya dengan tujuan bisa menikmati tubuhnya yang selama ini aku
bayang-bayangkan. Tapi keberanianku pupus sejak aku menikah dengan gadis
alim berjilbab dua tahun yang lalu. Padahal semasa bujang dulu aku
begitu lihai menggoda dan merayu wanita untuk menaklukannya agar
bersimpuh ke dalam pelukanku.
Pada moment seperti ini bisa saja aku mengikutinya ke kamar, terus
menyergap dan memeluknya, mencumbunya dan akhirnya menyetubuhi tubuh
mulus itu. Apalagi sepertinya lampu hijau sudah dia nyalakan sebagai
tanda dia membuka dirinya untuk di nikmatiku. Malah pernah suatu ketika
saat kami sama-sama di dapur yang Cuma berukuran 1x2,5 m sewaktu aku mau
mengangkat galon ke dispenser, dan dia sedang mencuci piring, terpaksa
aku harus melewati tubuhnya dengan merapat karena sempit dan sesaknya
dapur ini dengan perabot. Pada saat itu, kemaluanku menyenggol pantatnya
yang bergoyang-goyang seirama dengan gerakan tangannya mencuci piring.
Langkahku tidak aku teruskan menuju dispenser, karena aku rasakan dia
menggesek-gesekan pantatnya ke kemaluanku sambil berkata “sempiiiit
atuhhh….tapi lumayan ya???”
Sungguh, kemarin pagi keberanianku menaklukan wanita hilang, padahal di
rumah ini hanya ada kami berdua, anaknya sekolah, suaminya kerja, dan
mama ica sudah menantiku di dalam kamar sana, mungkin.

Tamat

Klik like jika anda suka dengan cerita ini
LIKE!!!
» Home » Koleksi Cerita Sex » Setengah Baya » Air Isi Ulang

Video Gadis Pecah Perawan ( Partner Sex )
Hijab Rape Sex ( Partner Sex )
School Girl Sex ( Partner Sex )

Cara Membuka Situs yang diblokir