Indosex.biz
IndoSex.Biz Download Bokep Indo Sex & XXX Porn Video Secara Gratis

Peringatan : Anda harus berusia 18+ atau lebih untuk mengakses situs ini.
New Sex Site Bokep999.Com
3 In 1
Saat kuliah aku punya sahabat karib bernama Yenny. Walaupun belum tentu
sekali setahun berjumpa tetapi semenjak sama-sama kami berkeluarga
hingga anak-anak tumbuh dewasa, jalinan persahabatan kami tetap
berlanjut. Setidaknya setiap bulan kami saling bertelpon. Ada saja
masalah untuk diomongkan. Suatu pagi Yenny telepon bahwa dia baru pulang
dari Magelang, kota kelahirannya. Dia bilang ada oleh-oleh kecil untuk
aku.
Kalau aku tidak keluar rumah, Idang anaknya, akan mengantarkannya
kerumahku. Ah, repotnya sahabatku, demikian pikirku. Aku sambut gembira
atas kebaikan hatinya, aku memang jarang keluar rumah dan aku menjawab
terima kasih untuk oleh-olehnya. Ah, rejeki ada saja, Yenny pasti
membawakan getuk, makanan tradisional dari Magelang kesukaanku. Aku
tidak akan keluar rumah untuk menunggu si Idang, yang seingatku sudah
lebih dari 10 tahun aku tidak berjumpa dengannya.
Menjelang tengah hari sebuah jeep Cherokee masuk ke halaman rumahku.
Kuintip dari jendela. Dua orang anak tanggung turun dari jeep itu.
Mungkin si Idang datang bersama temannya. Ah, jangkung bener anak Yenny.
Aku buka pintu. Dengan sebuah bingkisan si Idang naik ke teras rumah

“Selamat siang, Tante. Ini titipan mama untuk Tante Erna. Kenalin ini
Bonny teman saya, Tante”. Idang menyerahkan kiriman dari mamanya dan
mengenalkan temannya padaku. Aku sambut gembira mereka. Oleh-oleh Yenny
dan langsung aku simpan di lemari es-ku biar nggak basi. Aku terpesona
saat melihat anak Yenny yang sudah demikian gede dan jangkung itu.
Dengan gaya pakaian dan rambutnya yang trendy sungguh keren anak
sahabatku ini. Demikian pula si Donny temannya, mereka berdua adalah
pemuda-pemuda masa kini yang sangat tampan dan simpatik. Ah, anak jaman
sekarang, mungkin karena pola makannya sudah maju pertumbuhan mereka
jadi subur. Mereka aku ajak masuk ke rumah. Kubuatkan minuman untuk
mereka.
Kuperhatikan mata si Donny agak nakal, dia pelototi bahuku, buah dadaku,
leherku. Matanya mengikuti apapun yang sedang aku lakukan, saat aku
jalan, saat aku ngomong, saat aku mengambil sesuatu. Ah, maklum anak
laki-laki, kalau lihat perempuan yang agak melek, biar sudah tuaan macam
aku ini, tetap saja matanya melotot. Dia juga pinter ngomong lucu dan
banyak nyerempet-nyerempet ke masalah seksual. Dan si Idang sendiri
senang dengan omongan dan kelakar temannya. Dia juga suka nimbrung,
nambahin lucu sambil melempar senyuman manisnya.

Kami jadi banyak tertawa dan cepat saling akrab. Terus terang aku senang
dengan mereka berdua. Dan tiba-tiba aku merasa berlaku aneh, apakah ini
karena naluri perempuanku atau dasar genitku yang nggak pernah hilang
sejak masih gadis dulu, hingga teman-temanku sering menyebutku sebagai
perempuan gatal. Dan kini naluri genit macam itu tiba-tiba kembali
hadir.
Mungkin hal ini disebabkan oleh tingkah si Donny yang seakan-akan
memberikan celah padaku untuk mengulangi peristiwa-peristiwa masa muda.
Peristiwa-peristiwa penuh birahi yang selalu mendebarkan jantung dan
hatiku. Ah, dasar perempuan tua yang nggak tahu diri, makian dari hatiku
untukku sendiri. Tetapi gebu libidoku ini demikian cepat menyeruak ke
darahku dan lebih cepat lagi ke wajahku yang langsung terasa bengap
kemerahan menahan gejolak birahi mengingat masa laluku itu.

“Tante, jangan ngelamun. Cicak jatuh karena ngelamun, lho”. Kami kembali
terbahak mendengar kelakar Idang. Dan kulihat mata Donny terus
menunjukkan minatnya pada bagian-bagian tubuhku yang masih mulus ini.
Dan aku tidak heran kalau anak-anak muda macam Donny dan Idang ini demen
menikmati penampilanku. Walaupun usiaku yang memasuki tahun ke 42 aku
tetap “fresh” dan “good looking”. Aku memang suka merawat tubuhku sejak
muda. Boleh dibilang tak ada kerutan tanda ketuaan pada bagian-bagian
tubuhku. Kalau aku jalan sama Oke, suamiku, banyak yang mengira aku
anaknya atau bahkan “piaraan”nya. Kurang asem, tuh orang.

Dan suamiku sendiri sangat membanggakan kecantikkanku. Kalau dia
berkesempatan untuk membicarakan istrinya, seakan-akan memberi
iming-iming pada para pendengarnya hingga aku tersipu walaupun dipenuhi
rasa bangga dalam hatiku. Beberapa teman suamiku nampak sering tergoda
untuk mencuri pandang padaku. Tiba-tiba aku ada ide untuk menahan kedua
anak ini.

“Hai, bagaimana kalau kalian makan siang di sini. Aku punya resep
masakan yang gampang, cepat dan sedap. Sementara aku masak kamu bisa
ngobrol, baca tuh majalah atau pakai tuh, komputer si oom. Kamu bisa
main game, internet atau apa lainnya. Tapi jangan cari yang
‘enggak-enggak’, ya..”, aku tawarkan makan siang pada mereka.

Tanpa konsultasi dengan temannya si Donny langsung iya saja. Aku tahu
mata Donny ingin menikmati sensual tubuhku lebih lama lagi. Si Idang
ngikut saja apa kata Donny. Sementara mereka buka komputer aku ke dapur
mempersiapkan masakanku. Aku sedang mengiris sayuran ketika tahu-tahu
Donny sudah berada di belakangku. Dia menanyaiku, “Tante dulu teman
kuliah mamanya Idang, ya. Kok kayanya jauh banget, sih?”.

“Apanya yang jauh?, aku tahu maksud pertanyaan Donny.
“Iya, Tante pantesnya se-umur dengan teman-temanku”.
“Gombal, ah. Kamu kok pinter nge-gombal, sih, Don”.
“Bener. Kalau nggak percaya tanya, deh, sama Idang”, lanjutnya sambil melototi pahaku.
“Tante hobbynya apa?”.
“Berenang di laut, skin dan scuba diving, makan sea food, makan sayuran, nonton Discovery di TV”.
“Ooo, pantesan”.
“Apa yang pantesan?”, sergapku.
“Pantesan body Tante masih mulus banget”.

Kurang asem Donny ini, tanpa kusadari dia menggiring aku untuk
mendapatkan peluang melontarkan kata-kata “body Tante masih mulus
banget” pada tubuhku. Tetapi aku tak akan pernah menyesal akan giringan
Donny ini. Dan reaksi naluriku langsung membuat darahku terasa serr..,
libidoku muncul terdongkrak. Setapak demi setapak aku merasa ada yang
bergerak maju. Donny sudah menunjukkan keberaniannya untuk mendekat ke
aku dan punya jalan untuk mengungkapkan kenakalan ke-lelakian-nya.

“Ah, mata kamu saja yang keranjang”, jawabku yang langsung membuatnya tergelak-gelak.

“Papa kamu, ya, yang ngajarin?, lanjutku.
“Ah, Tante, masak kaya gitu aja mesti diajarin”.
Ah, cerdasnya anak ini, kembali aku merasa tergiring dan akhirnya terjebak oleh pertanyaanku sendiri.

“Memangnya pinter dengan sendirinya?”, lanjutku yang kepingin terjebak lagi.
“Iya, dong, Tante. Aku belum pernah dengar ada orang yang ngajari gitu-gitu-an”.
Ah, kata-kata giringannya muncul lagi, dan dengan senang hati kugiringkan diriku.
“Gitu-gituan gimana, sih, Don sayang?”, jawabku lebih progresif.

“Hoo, bener sayang, nih?”, sigap Donny.
“Habis kamu bawel, sih”, sergahku.
“Sudah sana, temenin si Idang tuh, n’tar dia kesepian”, lanjutku.
“Si Idang, mah, senengnya cuma nonton”, jawabnya.
“Kalau kamu?”, sergahku kembali.

“Kalau saya, action, Tante sayang”, balas sayangnya.
“Ya, sudah, kalau mau action, tuh ulek bumbu tumis di cobek, biar
masakannya cepet mateng”, ujarku sambil memukulnya dengan manis.

“Oo, beres, Tante sayang”, dia tak pernah mengendorkan serangannya padaku.
Kemudian dia menghampiri cobekku yang sudah penuh dengan bumbu yang siap
di-ulek. Beberapa saat kemudian aku mendekat ke dia untuk melihat hasil
ulekannya.
“Uh, baunya sedap banget, nih, Tante. Ini bau bumbu yang mirip Tante atau bau Tante yang mirip bumbu?”.
Kurang asem, kreatif banget nih anak, sambil ketawa ngakak kucubit
pinggangnya keras-keras hingga dia aduh-aduhan. Seketika tangannya
melepas pengulekan dan menarik tanganku dari cubitan di pinggangnya itu.
Saat terlepas tangannya masih tetap menggenggam tanganku, dia melihat
ke mataku. Ah, pandangannya itu membuat aku gemetar. Akankah dia berani
berbuat lebih jauh? Akankah dia yakin bahwa aku juga merindukan
kesempatan macam ini? Akankah dia akan mengisi gejolak hausku?
Petualanganku? Nafsu birahiku?

Aku tidak memerlukan jawaban terlampau lama. Bibir Donny sudah mendarat
di bibirku. Kini kami sudah berpagutan dan kemudian saling melumat. Dan
tangan-tangan kami saling berpeluk. Dan tanganku meraih kepalanya serta
mengelusi rambutnya. Dan tangan Donny mulai bergeser menerobos masuk ke
blusku. Dan tangan-tangan itu juga menerobosi BH-ku untuk kemudian
meremasi payudaraku. Dan aku mengeluarkan desahan nikmat yang tak
terhingga. Nikmat kerinduan birahi menggauli anak muda yang seusia
anakku, 22 tahun di bawah usiaku.

“Tante, aku nafsu banget lihat body Tante. Aku pengin menciumi body
Tante. Aku pengin menjilati body Tante. Aku ingin menjilati nonok Tante.
Aku ingin ngentot Tante”. Ah, seronoknya mulutnya. Kata-kata seronok
Donny melahirkan sebuah sensasi erotik yang membuat aku menggelinjang
hebat. Kutekankan selangkanganku mepet ke selangkangnnya hingga
kurasakan ada jendolan panas yang mengganjal. Pasti kontol Donny sudah
ngaceng banget.

Kuputar-putar pinggulku untuk merasakan tonjolannya lebih dalam lagi.
Donny mengerang.Dengan tidak sabaran dia angkat dan lepaskan blusku.
Sementara blus masih menutupi kepalaku bibirnya sudah mendarat ke
ketiakku. Dia lumati habis-habisan ketiak kiri kemudian kanannya. Aku
merasakan nikmat di sekujur urat-uratku. Donny menjadi sangat liar,
maklum anak muda, dia melepaskan gigitan dan kecupannya dari ketiak ke
dadaku.
Dia kuak BH-ku dan keluarkan buah dadaku yang masih nampak ranum. Dia
isep-isep bukit dan pentilnya dengan penuh nafsu. Suara-suara erangannya
terus mengiringi setiap sedotan, jilatan dan gigitannya. Sementara itu
tangannya mulai merambah ke pahaku, ke selangkanganku. Dia lepaskan
kancing-kancing kemudian dia perosotkan hotpants-ku. Aku tak mampu
mengelak dan aku memang tak akan mengelak. Birahiku sendiri sekarang
sudah terbakar hebat. Gelombang dahsyat nafsuku telah melanda dan
menghanyutkan aku. Yang bisa kulakukan hanyalah mendesah dan merintih
menanggung derita dan siksa nikmat birahiku.

Begitu hotpants-ku merosot ke kaki, Donny langsung setengah jongkok
menciumi celana dalamku. Dia kenyoti hingga basah kuyup oleh ludahnya.
Dengan nafsu besarnya yang kurang sabaran tangannya memerosotkan celana
dalamku. Kini bibir dan lidahnya menyergap vagina, bibir dan kelentitku.
Aku jadi ikutan tidak sabar.

“Donny, Tante udah gatal banget, nih”.
“Copot dong celanamu, aku pengin menciumi kamu punya, kan”.
Dan tanpa protes dia langsung berdiri melepaskan celana panjang berikut
celana dalamnya. kontolnya yang ngaceng berat langsung mengayun kaku
seakan mau nonjok aku. Kini aku ganti yang setengah jongkok, kukulum
kontolnya. Dengan sepenuh nafsuku aku jilati ujungnya yang sobek merekah
menampilkan lubang kencingnya. Aku merasakan precum asinnya saat Donny
menggerakkan pantatnya ngentot mulutku. Aku raih pahanya biar arah
kontolnya tepat ke lubang mulutku.

“Tante, aku pengin ngentot memek Tante sekarang”. Aku tidak tahu maunya,
belum juga aku puas mengulum kontolnya dia angkat tubuhku. Dia angkat
satu kakiku ke meja dapur hingga nonokku terbuka. Kemudian dia
tusukkannya kontolnya yang lumayan gede itu ke memekku.

Aku menjerit tertahan, sudah lebih dari 3 bulan Oke, suamiku nggak
nyenggol-nyenggol aku. Yang sibuklah, yang rapatlah, yang golflah.
Terlampau banyak alasan untuk memberikan waktunya padaku. Kini kegatalan
kemaluanku terobati, Kocokkan kontol Donny tanpa kenal henti dan
semakin cepat. Anak muda ini maunya serba cepat. Aku rasa sebentar lagi
spermanya pasti muncrat, sementara aku masih belum sepenuhnya puas
dengan entotannya.

Aku harus menunda agar nafsu Donny lebih terarah. Aku cepat tarik
kemaluanku dari tusukkannya, aku berbalik sedikit nungging dengan
tanganku bertumpu pada tepian meja. Aku pengin dan mau Donny nembak
nonokku dari arah belakang. Ini adalah gaya favoritku. Biasanya aku akan
cepat orgasme saat dientot suamiku dengan cara ini. Donny tidak perlu
menunggu permintaanku yang kedua. kontolnya langsung di desakkan ke
mem*kku yang telah siap untuk melahap kontolnya itu.
Nah, aku merasakan enaknya kontol Donny sekarang. Pompaannya juga lebih
mantab dengan pantatku yang terus mengimbangi dan menjemput setiap
tusukan kont*lnya. Ruang dapur jadi riuh rendah.

Selintas terpikir olehku, di mana si Idang. Apakah dia masih berkutat
dengan komputernya? Atau dia sedang mengintip kami barangkali? Tiba-tiba
dalam ayunan kont*lnya yang sudah demikian keras dan berirama Donny
berteriak.

“Dang, Idang, ayoo, bantuin aku .., Dang..”.
Ah, kurang asem anak-anak ini. Jangan-jangan mereka memang melakukan
konspirasi untuk mengentotku saat ada kesempatan disuruh mamanya untuk
mengirimkan oleh-oleh itu. Kemudian kulihat Idang dengan tenangnya
muncul menuju ke dapur dan berkata ke Donny

“Gue kebagian apanya Don?’
“Tuh, lu bisa ngentot mulutnya. Dia mau kok”.
Duh, kata-kata seronok yang mereka ucapkan dengan kesan seolah-olah aku
ini hanya obyek mereka. Dan anehnya ucapan-ucapan yang sangat tidak
santun itu demikian merangsang nafsu birahiku, sangat eksotik dalam
khayalku. Aku langsung membayangkan seolah-olah aku ini anjing mereka
yang siap melayani apapun kehendak pemiliknya.

Aku melenguh keras-keras untuk merespon gaya mereka itu. Kulihat dengan
tenangnya Idang mencopoti celananya sendiri dan lantas meraih kepalaku
dengan tangan kirinya, dijambaknya rambutku tanpa menunjukkan rasa
hormat padaku yang adalah teman mamanya itu, untuk kemudian ditariknya
mendekat ke kontolnya yang telah siap dalam genggaman tangan kanannya.
kontol Idang nampak kemerahan mengkilat. Kepalanya menjamur besar
diujung batangnya.

Saat bibirku disentuhkannya aroma kontolnya menyergap hidungku yang
langsung membuat aku kelimpungan untuk selekasnya mencaplok kontol itu.
Dengan penuh kegilaan aku lumati, jilati kulum, gigiti kepalanya,
batangnya, pangkalnya, biji pelernya. Tangan Idang terus mengendalikan
kepalaku mengikuti keinginannya. Terkadang dia buat maju mundur agar
mulutku memompa, terkadang dia tarik keluar kontolnya menekankan
batangnya atau pelirnya agar aku menjilatinya.

Duh, aku mendapatkan sensasi kenikmatan seksualku yang sungguh luar
biasa. Sementara di belakang sana si Donny terus menggenjotkan kontolnya
keluar masuk menembusi nonoknya sambil jari-jarinya mengutik-utik dan
disogok-sogokkannya ke lubang pantatku yang belum pernah aku mengalami
cara macam itu. Oke, suamiku adalah lelaki konvensional.

Saat dia menggauliku dia lakukan secara konvensional saja. Sehingga saat
aku merasakan bagaimana perbuatan teman dan anak sahabatku ini aku
merasakan adanya sensasi baru yang benar-benar hebat melanda aku. Kini 3
lubang erotis yang ada padaku semua dijejali oleh nafsu birahi mereka.
Aku benar-benar jadi lupa segala-galanya. Aku mengenjot-enjot pantatku
untuk menjemputi kontol dan jari-jari tangan Donny dan
mengangguk-anggukkan kepalaku untuk memompa kontol Idang.

“Ah, Tante, mulut Tante sedap banget, sih. Enak kan, kontolku. Enak,
kan? Sama kontol Oom enak mana? N’tar Tante pasti minta lagi, nih”.

Dia percepat kendali tangannya pada kepalaku. Ludahku sudah membusa
keluar dai mulutku. kontol Idang sudah sangat kuyup. Sesekali aku
berhenti sessat untuk menelan ludahku.

Tiba-tiba Donny berteriak dari belakang, “Aku mau keluar nih, Tante. Keluarin di memok atau mau diisep, nih?”.

Ah, betapa nikmatnya bisa meminum air mani anak-anak ini. Mendengar
teriakan Donny yang nampak sudah kebelet mau muncratkan spermanya, aku
buru-buru lepaskan kontol Idang dari mulutku. Aku bergerak dengan cepat
jongkok sambil mengangakan mulutku tepat di ujung kontol Donny yang kini
penuh giat tangannya mengocok-ocok kont*lnya untuk mendorong agar air
maninya cepat keluar.

Kudengar mulutnya terus meracau, “Minum air maniku, ya, Tante, minum ya,
minum, nih, Tante, minum ya, makan spermaku ya, Tante, makan ya, enak
nih, Tante, enak nih air maniku, Tante, makan ya..”.

Air mani Donny muncrat-muncrat ke wajahku, ke mulutku, ke rambutku.
Sebagian lain nampak mengalir di batang dan tangannya. Yang masuk
mulutku langsung aku kenyam-kenyam dan kutelan. Yang meleleh di batang
dan tanganannya kujilati kemudian kuminum pula.
Kemudian dengan jari-jarinya Donny mengorek yang muncrat ke wajahku
kemudian disodorkannya ke mulutku yang langsung kulumati jari-jarinya
itu. Ternyata saat Idang menyaksikan apa yang dikerjakan Donny dia nggak
mampu menahan diri untuk mengocok-ocok juga kontolnya. Dan beberapa
saat sesudah kontol Donny menyemprotkan air maninya, menyusul kontol
Idang memuntahkan banyak spermanya ke mulutku. Aku menerima semuanya
seolah-olah ini hari pesta ulang tahunku. Aku merasakan rasa yang
berbeda, sperma Donny serasa madu manisnya, sementara sperma Idang
sangat gurih seperti air kelapa muda.

Dasar anak muda, nafsu mereka tak pernah bisa dipuaskan. Belum sempat
aku istirahat mereka mengajak aku ke ranjang pengantinku. Mereka nggak
mau tahu kalau aku masih mengagungkan ranjang pengantinku yang hanya Oke
saja yang boleh ngentot aku di atasnya. Setengahnya mereka
menggelandang aku memaksa menuju kamarku.

Aku ditelentangkannya ke kasur dengan pantatku berada di pinggiran
ranjang. Idang menjemput satu tungkai kakiku yang dia angkatnya hingga
nempel ke bahunya. Dia tusukan kontolnya yang tidak surut ngacengnya
sesudah sedemikian banyak menyemprotkan sperma untuk menyesaki memekku,
kemudian dia pompa kemaluanku dengan cepat kesamping kanan, kiri, ke
atas, ke bawah dengan penuh irama.
Aku merasakan ujungnya menyentuh dinding rahimku dan aku langsung
menggelinjang dahsyat. Pantatku naik turun menjemput tusukan-tusukan
kontol legit si Idang. Sementara itu Donny menarik tubuhku agar kepalaku
bisa menciumi dan mengisap kontolnya. Kami bertiga kembali mengarungi
samudra nikmatnya birahi yang nikmatnya tak terperi.

Hidungku menikmati banget aroma yang menyebar dari selangkangan Donny.
Jilatan lidah dan kuluman bibirku liar melata ke seluruh kemaluan Donny.
Kemudian untuk memenuhi kehausanku yang amat sangat, paha Donny kuraih
ke atas ranjang sehingga satu kakinya menginjak ke kasur dan membuat
posisi pantatnya menduduki wajahku. Dengan mudah tangan Donny meraih dan
meremasi susu-susu dan pentilku.

Sementara hidungku setengah terbenam ke celah pantatnya dan bibirku
tepat di bawah akar pangkal kontolnya yang keras menggembung. Aku
menggosok-gosokkan keseluruhan wajahku ke celah bokongnya itu sambil
tangan kananku ke atas untuk ngocok kontol Donny. Duh, aku kini
tenggelam dalam aroma nikmat yang tak terhingga. Aku menjadi kesetanan
menjilati celah pantat Donny.
Aroma yang menusuk dari pantatnya semakin membuat aku liar tak
terkendali. Sementara di bawah sana Idang yang rupanya melihat bagaimana
aku begitu liar menjilati pantat Donny langsung dengan buasnya
menggenjot nonokku. Dia memperdengarkan racauan nikmatnya,

“Tante, nonokmu enak, Tante, nonokmu aku entot, Tante, nonokmu aku
entot, ya, enak, nggak, heh?, Enak ya, kontolku, enak Tante, kontolku?”.
Aku juga membalas erangan, desahan dan rintihan nikmat yang sangat
dahsyat. Dan ada yang rasa yang demikian exciting merambat dari dalam
kemaluanku.
Aku tahu orgasmeku sedang menuju ke ambang puncak kepuasanku. Gerakkanku
semakin menggila, semakin cepat dan keluar dari keteraturan. Kocokkan
tanganku pada kontol Donny semakin kencang. Naik-naik pantatku
menjemputi kontol Idang semakin cepat, semakin cepat, cepat, cepat,
cepat.
Dan teriakanku yang rasanya membahana dalam kamar pengantinku tak mampu
kutahan, meledak menyertai bobolnya pertahanan kemaluanku. Cairan
birahiku tumpah ruah membasah dab membusa mengikuti batang kontol yang
masih semakin kencang menusukki nonokku. Dan aku memang tahu bahwa Idang
juga hendak melepas spermanya yang kemudian dengan rintihan nikmatnya
akhirnya menyusul sedetik sesudah cairan birahiku tertumpah. Kakiku yang
sejak tadi telah berada dalam pelukannya disedoti dan gigitinya hingga
meninggalkan cupang-cupang kemerahan.

Sementara Donny yang sedang menggapai menuju puncak pula, meracau agar
aku mempercepat kocokkan kontolnya sambil tangannya keras-keras meremasi
buah dadaku hingga aku merasakan pedihnya. Dan saat puncaknya itu
akhirnya datang, dia lepaskan genggaman tanganku untuk dia kocok sendiri
kontolnya dengan kecepatan tinggi hingga spermanya muncrat semburat
tumpah ke tubuhku.
Aku yang tetap penasaran, meraih batang yang berkedut-kedut itu untuk
kukenyoti, mulutku mengisap-isap cairan maninya hingga akhirnya
segalanya reda. Jari-jari tanganku mencoleki sperma yang tercecer di
tubuhku untuk aku jilat dan isap guna mengurangi dahaga birahiku.

Sore harinya, walaupun aku belum sempat merasakan getuk kirimannya yang
kini berada dalam lemari esku dengan penuh semangat dan terima kasih aku
menelepon Yenny.
“Wah, terima kasih banget atas kirimannya, ya Yen. Karena sudah lama aku
tidak merasakannya, huh, nikmat banget rasanya. Ada gurihnya, ada
manisnya, ada legitnya”, kataku sambil selintas mengingat kenikmatan
yang aku raih dari Idang anaknya dan Donny temannya.

Yenny tertawa senang sambil menjawab, “Nyindir, ya. Memangnya kerajinan
tanduk dari Pucang (sebuah desa di utara Magelang yang menjadi pusat
kerajinan dari tanduk kerbau) itu serasa getuk kesukaanmu itu. N’tar deh
kalau aku pulang lagi, kubawakan sekeranjang getukmu”.

Aku tersedak dan terbatuk-batuk. Mati aku, demikian pikirku. Ternyata bingkisan dalam kulkas itu bukan getuk kesukaanku.

Tamat

Klik like jika anda suka dengan cerita ini
LIKE!!!
» Home » Koleksi Cerita Sex » Setengah Baya » 3 In 1

Video Gadis Pecah Perawan ( Partner Sex )
Hijab Rape Sex ( Partner Sex )
School Girl Sex ( Partner Sex )

Cara Membuka Situs yang diblokir