Indosex.biz
IndoSex.Biz Download Bokep Indo Sex & XXX Porn Video Secara Gratis

Peringatan : Anda harus berusia 18+ atau lebih untuk mengakses situs ini.
New Sex Site Bokep999.Com
Akhirnya aku menikmati hal itu
Aku adalah wanita berumur 29 tahun, sekarang aku tinggal sendirian di rumahku yang terletak di salah satu komplek yang disebut sebagian orang sebagai komplek orang berduit di wilayah Jakarta. Walau Aku telah lama menikah hingga kini aku belum memiliki anak. Rumah yang kutempati ini adalah hadiah perkawinan untukku, suamiku membeli rumah ini atas namaku. “Sebagai bukti ketulusan sayangku padamu” katanya.

Rumah-rumah di komplekku terbilang saling berjauhan karena masing-masing rumah memiliki pekarangan yang luas. Hidup di Jakarta menyebabkan aku juga tidak begitu mengenal tetanggaku. Kami masing-masing memiliki kehidupan sendiri-sendiri.

Malam itu aku pulang agak larut karena baru pulang dari bertemu salah seorang teman yang baru kukenal dari dunia maya. Setelah mengunci pintu depan aku mencari-cari kontak lampu karena suasana rumahku masih gelap. Begitu lampu menyala, aku langsung menuju kamarku untuk mengganti baju yang kotor.

Aku melepaskan seluruh pakaianku lalu menyimpan baju kotorku di keranjang yang memang kusediakan di kamar untuk pakaian kotor. Sungguh aku sekarang telanjang bulat. Aku merasa sendiri di rumahku sehingga aku merasa bebas walaupun ke ruang tengah atau ke dapur dalam keadaan telanjang.

Aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badanku. Selesai mandi rasanya badanku terasa segar. Kemudian duduk santai menonton TV di ruang tengah sambil minum susu hangat. Aku hanya melilitkan handuk pada badanku, sambil mengeringkan rambutku dengan kipas angin aku buka channel TV sana-sini. Acaranya tidak ada yang menarik hatiku.

Iseng-iseng aku menonton film BF koleksiku yang baru saja aku download. Melihat adegan difilm aku menjadi sedikit terangsang melihat adegan itu, “Aaah.. seandainya ada seorang pria disampingku saat ini”,pikirku.
Aku melepaskan handuk yang melilit badanku, lalu mengelus-elus payudaraku sendiri dengan lembut. Payudaraku memang cukup besar ukuran 34 B, tadi saja saat bertemu dengan temanku pertama kalinya dia memuji bentuk payudaraku “Montok” ujarnya. Untuk urusan mengurus badan, aku memang agak telaten. Karena bagiku kecantikan wanita dan kemulusan badan itu adalah harga mati. Aku tidak menyadari sama sekali kalau ada sepasang mata yang memperhatikan kegiatanku

Kuelus-elus buah dadaku dengan lembut hingga terus terang menimbulkan rangsangan tersendiri bagiku. Libidoku tiba-tiba datang dan hasratku jadi memuncak, rasanya aku ingin berlama-lama, matakupun tak terasa mulai sayu merem melek merasakan rangsangan.

Kali ini bukan lagi belaian yang kulakukan, tapi aku sudah mulai melakukan remasan ke buah dadaku. Kupilin-pilin puting susuku dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjukku. Nikmat sekali rasanya. Tanganku perlahan-lahan turun mengelus-elus selangkanganku. Saat jari-jariku mengenai bibir-bibir vaginaku, aku pun merasakan darah yang mengalir di tubuhku seakan mengalir lebih cepat daripada biasanya.

Aku terangsang sekali, liang vaginaku sudah dibanjiri oleh lendir yang keluar membasahi bibir vaginaku. Lalu jari-jariku kuarahkan ke klitorisku. Kutempelkan dan kugesek-gesek klitorisku dengan jariku sendiri hingga aku pun tak kuasa membendung gejolak dan hasratku yang semakin menggebu. Badanku melengkung merasakan kenikmatan, kukangkangkan pahaku semakin lebar. Jari tengah dan telunjuk tangan kiriku kupakai untuk menyibak bibir vaginaku sambil menggesek-geseknya. Sementara jari tengah dan telunjuk tangan kananku aktif menggosok-gosok klitorisku.

Kualihkan jari tangan kananku ke arah lipatan vaginaku. Ujung jariku mengarah ke pintu masuk liang kenikmatanku, kusorongkan sedikit masuk ke dalam. Liang vaginaku sudah benar-benar basah oleh lendir yang licin hingga dengan mudahnya menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku. Kini jari tangan kiriku sudah tidak perlu lagi menyingkap bibir kemaluanku lagi hingga kualihkan tugasnya untuk menggesek-gesek klitorisku.

Kukocokkan jari tangan kananku keluar masuk liang vaginaku. Jari-jariku menyentuh dan menggesek-gesek dinding vaginaku bagian dalam, ujung-ujung jariku menyentuh G-spot, punggung dan kepalaku jadi tersandar kuat pada sofa di ruang tengah, seakan-akan tubuhku melayang-layang dengan kenikmatan tiada tara.

Aku sudah benar-banar mencapai puncaknya untuk menuju klimaks saat ada sesuatu yang rasanya akan meledak keluar dari dalam rahimku, ini pertanda aku akan segera mencapai orgasme. Gesekan jari tangan kiri di klitorisku makin kupercepat lagi, demikian pula kocokan jari tangan kanan dalam vaginaku pun makin kupercepat pula. Untuk menyongsong orgasmeku yang segera tiba, kurasakan kedutan bibir vaginaku yang tiba-tiba mengencang menjepit jari-jariku yang masih berada di dalam liang senggamaku.

Bersamaan dengan itu aku merasakan sesekali ada semburan dari dalam yang keluar membasahi dinding vaginaku. Aku serasa sedang kencing namun yang mengalir keluar lebih kental berlendir, itulah cairan maniku yang mengalir deras.

“AHH……..” aku terpekik, lalu tubuhku bergetar hebat. Setelah beberapa detik baru terasa badanku seperti lemas sekali.

Mataku terpejam sambil menikmati rasa indah yang menjalar di sekujur badanku, tiba-tiba tersa ada benda dingin menempel di leherku. Mataku sedikit terbuka, lalu…..

“ Diam atau lehermu akan terluka.” Suara seorang laki-laki terdengar mengejutkanku. Jantungku rasanya hampir berhenti menyadari ada pria yang menempelkan pisau ke leherku, dan aku dalam keadaan telanjang……..

Aku terdiam tak berdaya ketika dia berusaha mengikat tanganku. Aku takut kalau dia merasa terancam, maka dia akan membunuhku. Matanya jelalatan melihat tubuhku yang tidak tertutup sehelai kain. Terbersit penyesalan dalam hatiku, kenapa aku sangat gegabah. Bagaimana dia masuk ke dalam rumah ini, dan apa yang akan mereka lakukan. Segala macam perasaan dalam diriku saat itu.

“He.. he.. he… cantik, ijinkan aku untuk membantumu menyelesaikan hasrat terpendam dalam dirimu.” lelaki itu duduk disampingku.

“Nah cantik…. Sekarang aku akan memuaskanmu.” Ternyata Laki-laki itu adalah laki-laki yang aku kenal , “Ryan, apa maksud semua ini”, teriakku. Ryan adalah teman dunia maya yang siang tadi sempat bertemu denganku. Tidak kusangka dia mengikutiku hingga ke rumah tempat tinggalku. Ryan hanya diam mendengar pertanyaanku kemudian dengan kalemnya dia raih tangan dan pinggangku untuk memelukku. Antara takut dan marah, aku masih berontak dan berusaha melawan. Kutendangkan kakiku ke tubuhnya sekenanya, tetapi.. Ya ampuunn.. Dia tidak bergeming sama sekali terhadap hal itu.
Ryan lalu menyeretku menuju ke kamar tidurku. Aku setengah dibantingkannya ke ranjang. Dan aku benar-benar terbanting. Dia ikat tanganku ke backdrop ranjang itu. Aku meraung, menangis dan berteriak sejadi-jadinya, tapi hanya terdengar gumaman dari mulutku karena mereka membekap mulutku. hingga akhirnya, sehingga aku menyadari tidak ada gunanya lagi berontak maupun berteriak. Sesudah itu dia tarik tungkai kakiku mengarah ke dirinya. Dia nampak berusaha menenangkan aku, dengan cara menekan mentalku, seakan meniupi telingaku. Dia berbisik dalam desahnya,

“Ayolah Deisy, jangan lagi memberontak. Percuma khan, jarak antar rumah di komplek ini cukup berjauhan. Lagian kalaupun ada yang tahu mereka tidak akan berani menggangu”.

Aku berpikir cepat menyadari kata-katanya itu dan menjadi sangat khawatir. Ryan seakan-akan sengaja memperhitungkan keadaan. Kemudian dengan tersenyum dia benamkan wajahnya ke ketiakku. Dia menciumi, mengecup dan menjilati lembah-lembah ketiakku. Dari sebelah kanan kemudian pindah ke kiri. Menimbulkan rasa geli sekaligus membangkitkan gairah. Tangan-tangannya menjamah dan menelusup kemudian mengelusi pinggulku, punggungku, dadaku. Tangannya juga meremas-remas susuku. Dengan jari-jarinya dia memilin puting-puting susuku. Disini dia melakukannya mulai dengan lembut dan demikian penuh perasaan. Bajingan! Dia pikir bisa menundukkan aku dengan caranya yang demikian itu. Aku terus berontak dalam geliat.. Tetapi aku bagaikan mangsa yang siap diterkam.

Aku sesenggukan melampiaskan tangisku dalam sepi. Tak ada suara dari mulutku yang tersumpal. Yang ada hanya air mataku yang meleleh deras. Aku memandang ke-langit-langit kamar. Aku merasa sakit atas ketidak adilan yang sedang kulakoni. Kini Ryan menatapku. Aku menghindari tatapan matanya. Dia menciumi pipiku dan menjilat air mataku,

“Deisy Kamu cantik banget ….. ” dia berusaha menenangkanku.

Dia juga menciumi tepian bibirku yang tersumpal. Tangannya meraba pahaku dan mulai meraba-raba kulitku yang sangat halus karena tak pernah kulewatkan merawatnya. Ryan tahu kehalusan kulitku. Dia merabanya dengan pelan dan mengelusinya semakin lembut. Betapa aku dilanda perasaan malu yang amat sangat. Hanya suamiku yang melihat auratku selama ini, tiba-tiba ada seorang laki-laki asing yang baru saja aku kenal demikian saja merabaiku dan menyingkap segala kerahasiaanku.

Aku merasakan betisku, pahaku kemudian gumpalan bokongku dirambati tangan-tangannya. Pemberontakanku sia-sia. Wajahnya semakin turun mendekat hingga kurasakan nafasnya yang meniupkan angin ke selangkanganku. Ryan mulai menenggelamkan wajahnya ke selangkanganku.

“ Ah…..” Bukan main. Aku mendesiz . Aku tak kuasa menolak semua ini. Segala berontakku kandas. Kemudian aku merasakan lidahnya menyapu pori-pori selangkanganku.

Lidah itu sangat pelan menyapu dan sangat lembut. Darahku berdesir. Duniaku seakan-akan berputar dan aku tergiring pada tepian samudra yang sangat mungkin akan menelan dan menenggelamkan aku. Aku mungkin sedang terseret dalam sebuah arus yang sangat tak mampu kulawan. Aku merasakan lidah-lidah Ryan seakan menjadi seribu lidah. Seribu lidah Ryan menjalari semua bagian-bagian rahasiaku. Seribu lidah Ryan inilah yang menyeretku ke tepian samudra kemudian menyeret aku untuk tertelan dan tenggelam. Aku tak bisa pungkiri. Aku sedang jatuh dalam lembah nikmat yang sangat dalam.. Aku sedang terseret dan tenggelam dalam samudra nafsu birahiku. Aku sedang tertelan oleh gelombang nikmat syahwatku sendiri.

Dan saat kombinasi lidah yang menjilati selangkanganku dan sesekali dan jari-jari tangannya yang mengelusi paha di wilayah puncak-puncaknya rahasiaku, aku semakin tak mampu menyembunyikan rasa nikmatku. Isak tangisku terdiam, berganti dengan desahan dari balik kain yang menyumpal mulutku. Dan saat kombinasi olahan bibir dan lidah dipadukan dengan bukan lagi sentuhan tetapi remasan pada kemaluanku, desahanku berganti dengan rintihan yang penuh derita nikmat birahi.

Ryan tiba-tiba mrenggut sumpal mulutku.Dia begitu yakin bahwa aku telah tertelan dalam syahwatku.

“Ayolah, sayang.. mendesahlah.. merintihlah.. Puaskan aku….. bukankah itu yang kamu inginkan, aku akan merealisasikan semua fantasimu yang selama ini terpendam”

Mendengar itu rasa takut hilang aku mendesah dan merintih sangat histeris. Kulepaskan dengan liar derita nikmat yang melandaku. Aku kembali menangis dan mengucurkan air mata. Aku kembali berteriak histeris. Tetapi kini aku menangis, mengucurkan air mata dan berteriak histeris beserta gelinjang syahwatku. Aku meronta menjemput nikmat. Aku menggoyang-goyangkan pinggul dan pantatku dalam irama nafsu birahi yang menerjangku.

Aku tak mampu mengendalikan diriku lagi. Aku bergoncang-goncang mengangkat pantatku untuk mendorong dan menjemputi bibirnya karena kegatalan yang amat sangat pada kemaluanku dilanda nafsu birahi. Dan kurasakan betapa kecupan dan gigitan lidah Ryan ini membuatku seakan-akan menggigil dan gemetar lupa diri.

“Masukin… Ryan.. auh… aku gak tahan…..siksa aku lecehkan aku..aah.. jadikan aku budak seksmu” aku mendesah tidak karuan. Akhirnya karena tak mampu aku menahannya lagi aku merintih.
Mendengar desahan ku Ryan terlihat tersenyum, dan “Cuihh” dia meludahiku. Tapi entah kenapa aku semakin bergairah. “Aahh ludahi aku, lecehkan aku, perkosa aku” rintihku tanpa bisa menahan nafsuku yang sudah lama kupendam.
“Hahaha Deisy.. Deisy.. dasar lonte kamu, maunya cuma dikontol aja kan” Ryan berkata setelah seolah hendak menghinaku. Tapi perasaan apa ini aku malah menikmatinya. Ingin lebih lagi dihina dan dilecehkan seperti ini.
“Tetek mu bagus Deisy” puji Ryan terhadap payudara ku, tapi Plak..plak,.. tiba-tiba Ryan menampar payudaraku dengan sangat kasar. “Ahhh..” aku melenguh kesakitan namun juga merasakan nikmat yang sangat sulit dibayangkan. Ryan sepertinya mempraktekkan semua hal yang dulu pernah kami bicarakan didalam chating.
“Kamu suka kan teteknya ditampar seperti ini, benarkan ayo jawab LONTE” Ryan mulai berkata kasar kepadaku tapi ini adalah fantasiku yang sudah lama ingin aku dapatkan. “Lagi hina aku lebih kasar lagi”, bathinku meminta.
“Ayo berdiri kamu lonte cepat jilatin kontol sama anus ku” perintahnya, aah awalnya aku merasa jijik tapi entah kenapa aku begitu menikmati ini, Serr... dari lubang kencing kontol Ryan keluar air saat aku sedang mengulumi kontolnya.
“Uhukk... uhukk...”, aku tersedak karena kaget. Melihat itu Ryan memerintahkan aku untuk meminum air kencingnya.
“Ayoo minum .. lonte hauskan?? minum yang banyak!!” teriaknya. Sambil menampar Pipiku “Plak.. Plaaak...” memaksa agar mau membuka mulutku. Rambutnya ditarik olehnya hingga aku jatuh terjerembab. Namun ryan bukannya berhenti malah dia semakin mengencingi aku dengan air seninya. “Gimana bukannya Kamu suka dikencingin seperti ini haaah” Aku yang memang sudah tidak bisa lagi menaha diri langsung membuka mulutnya dan meminum kecing yang jatuh.

Aku mulau mendesah seperti orang kesurupan “oouuwhh,, Ryan sayanggg, ooohhhh”
“Iyaa Ryan,, mandiin lontemu dengan kencing,, ooohhhh”
“Berdiri”, perintah Ryan denga menarik rambutku dan dia kemudian menyuruhku untuk menungging. Plaak.. Plak... Ryan menampar pantatku “Hahaha pantat ini dah dianal sama siapa ja haah..plak..plak..ayo bilang” Ryan mulai kembali menghinaku dengan kata-katanya

“oohh, ampuun ryan, aahh,, anusku baru sama suami saya saja,, oouuwwhhh” lenguh ku saat Ryan berkali-kali menampar pantatku.
Kemudian aku merasakan Ryan mulai membuka pahaku dan terlihatlah Memek ku yang merona dan merekah. “Plaak... Plaak” kali ini giliran memekku yang ditamparnya. “Aaahh” aku mendesis merasakan kenikmatan saat dia melakukannya.

“oohh,, mmmmmm,, enaak Ryan,, mksihh Ryan, aahhh,, tampar memek lontemu Ryan,, kerasss,, uuhhh”
“ooouuhh tampr keras,, sini jarimuu,, masukin ryan tusuk yg cepatt n kasarr,, oohhhhh,,” aku semakin meracau dan kehilangan kesadaran
“Ahhhh..,” aku akhirnya mengalami orgasme kembali namun kali ini terasa begitu nikmat. Sudah sejak lama aku mengidam-idamkan hal ini.
Rintihan itu membuat Ryan itu mendekatkan wajahnya ke wajahku hingga bisa kuraih bibirnya. Aku rakus menyedotinya. Aku berpagut dengan pemerkosaku. Aku melumat mulutnya. Aku benar-benar dikejar badai birahiku. Aku benar-benar dilanda gelombang syahwatku.
Aku betul-betul tidak sabar menunggu dia melepas pakaiannya. Aku masih berkelojotan diranjang. Dan kini aku benar-benar menunggu Ryan itu memasukkan kontolnya ke kemaluanku pula. Aku benar-benar berharap karena sudah tidak tahan merasakan badai birahiku yang demikian melanda seluruh organ-organ peka birahi di tubuhku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang sama sekali diluar dugaanku. Aku sama sekali tak menduga, karena memang aku tak pernah punya dugaan sebelumnya. Kemaluan Ryan ini demikian gedenya.
Rasanya ingin tanganku meraihnya, namun belum lepas dari ikatan dasi di backdrop ranjang ini. Yang akhirnya kulakukan adalah sedikit mengangkat kepalaku dan berusaha melihat kemaluan itu. Ampuunn.. Sungguh mengerikan. Rasanya ada pisang ambon gede dan panjang yang sedang dipaksakan untuk menembusi memekku. Aku menjerit tertahan. Tak lagi aku sempat memandangnya.

Ryan ini sudah langsung menerkam kembali bibirku. Dia kini berusaha menjulurkan lidahnya di rongga mulutku sambil menekankan kontolnya untuk menguak bibir vaginaku. Kini aku dihadapkan kenyataan betapa besar kontol di gerbang kemaluanku saat ini. Aku sendiri sudah demikian dilanda birahi dan tanpa malu lagi mencoba merangsekkan lubang kemaluanku.Cairan-cairan kewanitaanku membantu kontol itu memasuki kemaluanku.
“Hahaha sini nungging aku mau masukin kontol ke memeknya” perintahnya kepada ku.
Ryan memasukan dengan cepet ke kontolnya dan jrebbb, seketika kontolnya amblas kedalam vaginaku.
“Blesek……..Blesek………. Ohh…… Kenapa sangat nikmat begini…….. Oh aku sangat merindukan kenikmatan ini…..” Aku semakin meracau.
“Plak. Plakk..” beberapa tanparan diberikan kepada pantatku. “Ayo goyang pantatnya Lonte” teriak Ryan.
“Ahh iyaa Ryan,, mmmm,, aahhhh, oouuwwhh,, maki, hinaa Deisy yang bnyaakk,ooohhhhh”
“hahaha kamu memang murahan!! memek loh yang sudaah dientot oleh kontol orang haah” kata-kata Ryan semakin membuat ku bergairah
“teruuss Ryan ahhhhh,,”
“hahaha kamu maniak seks ternyata des.. pecun sialan”
“plak... cepat goyang” semakin aku meracau semakin sering Ryan menampar pantatku seakan dia sedang memacu seekor kuda.
“oohh iyaa Ryan lontemuu goyng yg cepaat,, uuhh, mmmm,"mm,, oohh cd Ryan mana,, lontemu mau gigit,, ooohhh” aku sudah mulai berani meminta hal yang sedikit gila aku sudah menikmati kejadiaan ini.
“hahaha ini makan cdnya masukan kedalam mulut kamuaah cepat lonte goyang yang cepat Ryan mau keluar kan pejunya cepat kamu juga” Ryan terlihat senang dengan aksi yang aku lakukan “plak..plak..aaahrhh ayo percepat goyangnya”
“oohh, iyaa Ryan deisyy goyang,, keluarinn yg bnykk,, aahhh,, tampar deisy tuaann,, aahhhh”
“hahaha kamu suka ya.. plak..plak..ayo cepat pplak..”
“Ryan keluarin didalam Ryan hamili aku”
“Kamu mau dihamilin haah?? Sini akan aku hamilin kamu”jawab ryan mendengar ocehanku
“iyaa Ryan,, uuhh, uuhh,? mmm,, aaahhhh”
“iyaa Ryan, hamilin Deisy ooohh,, ,, oouuwwhh enaakkk Ryan,,mmm”
“mmmmm,, mmmm,, Deisy sukaaa, aahhhh”
“suka apa haah... plakkkk..plakkkk..plakkkk..bilang yang jelas” Ryan menghardiku
“ouuwwhh,, sukaa di kontolin Ryan,, aahhh,,”
“siapa yang suka ??plakkkk..plakkkk..plakkkk..”
“aahh, deisy lontenya Ryan,,uuuhh”
Sensasi cengkeraman kemaluanku pada bulatan keras batang besar kontol Ryan ini sungguh menyuguhkan fantasy terbesar dalam seluruh hidupku selama ini. Aku rasanya terlempar melayang kelangit tujuh. Aku meliuk-liukkan tubuhku, menggeliat-liat, meracau dan mendesah dan merintih dan mengerang dan.. Aku bergoncang dan bergoyang tak karuan…. Orgasmeku dengan cepat menghampiri dan menyambarku. Aku kelenger dalam kenikmatan tak terhingga.. Aku masih kelenger saat dia mengangkat salah satu tungkai kakiku untuk kemudian dengan semakin dalam dan cepat menggenjoti hingga akhirnya muntah dan memuntahkan cairan panas dalam rongga kemaluanku.
“aah deisy.. Ryan sampai.. crott.. crot...memeknya enak.. memek lontenya Ryan”teriak Ryan ketika orgasme

“Auh………. AHH…… “ aku menjerit merasakan gelombang-gelombang listrik kenikmatan menjalar di sekujur tubuhku.
“ooohhhh,, mmmmmm,, hhuuuu,, makasihh Ryan,, oohhh”tanpa sadar aku malah berterimakasih kepadanya. Aku lupa kalau sebenarnya aku tengah diperkosa.

Kami langsung roboh. Hening sesaat. Aneh, aku tak merasa menyesal, tak merasa khawatir, tak merasa takut. Ada rasa kelapangan dan kelegaan yang sangat longgar. Aku merasakan seakan menerima sesuatu yang sangat aku rindukan selama ini. Apakah aku memang hipersex atau memang karena Ryan ini memang tangguh dan pandai bercinta. Ah aku tidak mau berfikir lagi.. Akupun tertidur kelelahan.

Tamat

Klik like jika anda suka dengan cerita ini
LIKE!!!
» Home » Koleksi Cerita Sex » Pemerkosaan » Akhirnya aku menikmati hal itu

Video Gadis Pecah Perawan ( Partner Sex )
Hijab Rape Sex ( Partner Sex )
School Girl Sex ( Partner Sex )

Cara Membuka Situs yang diblokir